Mataram – Tanggal 21 April selalu menjadi momen bersejarah bagi bangsa Indonesia untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini. Semangat emansipasi dan pendidikan yang beliau gaungkan lebih dari satu abad lalu terus dihidupkan, salah satunya terlihat jelas di SMAK Kesuma Mataram. Pada peringatan Hari Kartini tahun ini, sekolah menghadirkan nuansa yang berbeda. Tanpa upacara lapangan yang panjang, peringatan justru terasa lebih khidmat dan personal karena dilaksanakan serentak di setiap ruang kelas, mengusung tema kecintaan pada budaya dan komitmen pada pendidikan.

Harmoni Visual: Lautan Kebaya dan Batik

Sejak gerbang sekolah dibuka, suasana di SMAK Kesuma Mataram terasa sangat istimewa. Seragam putih abu-abu tergantikan oleh warna-warni pakaian tradisional nasional. Berdasarkan instruksi sekolah, seluruh warga sekolah merayakan hari ini dengan mengenakan busana kebanggaan nusantara.

Para siswi dan guru perempuan tampil anggun dalam balutan kebaya. Mulai dari kebaya kutubaru klasik, encim, hingga brokat modern dipadukan dengan kain batik atau songket. Penampilan ini seakan membawa kembali keanggunan khas perempuan nusantara. Di sisi lain, para siswa dan guru laki-laki tampil berwibawa mengenakan kemeja batik dengan beragam corak dari seluruh penjuru daerah.

Pemandangan ini bukan sekadar ajang unjuk gaya, melainkan bentuk penghormatan (tribute) terhadap warisan budaya. Harmoni visual yang tercipta di koridor sekolah memberikan pelajaran berharga di pagi hari tentang identitas, kebanggaan nasional, dan pentingnya pelestarian budaya di tengah arus globalisasi.

Menggema di Ruang Kelas: Lantunan "Ibu Kita Kartini"

Tepat pukul 07.15 WITA, saat bel masuk berbunyi, seluruh siswa dan guru yang mengajar di jam pertama bersiap di kelas masing-masing. Pagi ini tidak langsung dibuka dengan penyampaian materi. Melalui pengeras suara sentral, terdengar instruksi untuk sejenak menghentikan aktivitas, berdiri dengan sikap sempurna, dan menyanyikan lagu wajib nasional "Ibu Kita Kartini" ciptaan W.R. Supratman.

Menyanyikan lagu ini bersama-sama secara serentak dalam balutan pakaian tradisional memberikan sensasi emosional yang mendalam. Suara para siswi berpadu harmonis dengan suara para siswa, menggema keluar dari jendela-jendela kelas dan melayang di udara pagi.

Ritual ini adalah sebuah proses internalisasi nilai. Setiap liriknya mengingatkan para siswa bahwa pendidikan yang mereka nikmati hari ini—di mana laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk mengejar mimpi—adalah hasil perjuangan panjang para pahlawan bangsa.

Menundukkan Kepala: Doa untuk Masa Depan Bangsa

Begitu nada terakhir selesai dilantunkan, suasana kelas menjadi hening dan khusyuk. Guru di masing-masing kelas memimpin doa bersama sesuai ajaran agama dan kepercayaan masing-masing.

Doa tersebut dipanjatkan sebagai rasa syukur atas kemerdekaan dan kesetaraan. Secara khusus, warga sekolah mendoakan arwah R.A. Kartini dan para pahlawan yang telah memajukan pendidikan Indonesia. Selain itu, doa difokuskan pada generasi muda, memohon agar para siswi diberikan kebijaksanaan untuk menjadi "Kartini masa kini" yang tangguh, cerdas, dan berbudi pekerti.

Bagi para siswa laki-laki, momen ini menjadi pengingat untuk terus menumbuhkan sikap saling menghargai dan menghormati. Kesetaraan gender ditekankan sebagai upaya saling bahu-membahu membangun peradaban, menjadikan doa bersama ini landasan spiritual yang kokoh sebelum memulai aktivitas intelektual.

Melanjutkan Perjuangan Melalui Pembelajaran

Hal paling filosofis dari perayaan ini adalah kepraktisannya. Setelah menyanyi dan berdoa—yang hanya memakan waktu sekitar 15 menit—kegiatan belajar mengajar (KBM) langsung dilanjutkan sesuai jadwal.

Tidak ada waktu produktif yang terbuang. Keputusan sekolah untuk segera mengembalikan siswa pada rutinitas akademis adalah perwujudan paling nyata dari semangat Kartini. Beliau berjuang keras agar perempuan mendapat akses pendidikan, karena kebodohan adalah belenggu terbesar bangsa.

Oleh karena itu, cara terbaik menghormati Kartini bukanlah dengan perayaan seremonial semata, melainkan dengan belajar segiat mungkin. Saat guru mulai menjelaskan materi dan para siswa menyimak dengan saksama dalam balutan kebaya serta batik, di situlah perjuangan Kartini benar-benar dihidupkan. Transisi menuju pembelajaran berlangsung kondusif, didukung aura kebanggaan dari pakaian adat yang dikenakan.

Makna di Era Gen Z dan Suara Warga Sekolah

Bagi Generasi Z, mewajibkan penggunaan kebaya dan batik memiliki urgensi sebagai jangkar budaya. Kebaya mengajarkan nilai kelembutan dan kesabaran, sementara batik mengajak siswa menghargai proses dan mencintai produk dalam negeri.

Penutup: Cita-Cita yang Terus Menyala

Kegiatan di SMAK Kesuma Mataram memberikan pelajaran bahwa menghormati sejarah bisa dilakukan dalam kesederhanaan dan komitmen. Mengenakan pakaian adat, menyanyikan lagu perjuangan, berdoa, dan kembali membuka buku pelajaran sukses merangkum esensi Hari Kartini.

Semangat "Cahaya yang Tak Pernah Padam" yang menjadi tema kegiatan ini diharapkan terus menyinari setiap ruang kelas. Sekolah membuktikan fungsinya tidak hanya sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga wadah merawat nilai kebangsaan dan moral generasi muda. Maju terus pendidikan Indonesia!

link foto :https://drive.google.com/drive/folders/1X3Jtv3gJMuOv1faUBtQXdoPPA8uu--1l?usp=sharing